Rindu itu menggerahkan,
maka ku putuskan untuk mendatangi ‘Tukang Pukul’ dengan ‘bertelanjang dada’.
Rindu itu menyesakkan,
maka ku berangkat untuk menghirup udara segar di Bandung sana.
.
Hari Minggu lalu. 18 November. Milenium kedua berlebih 10 tahun tambah dua.
Aku kesana menggiring sebuah tanya.
Mengharap obat mujarab.
Mencari jawab.
.
Karena sudah beberapa purnama,
kembali hadir sebuah nama.
Namun tak seperti sebelumnya.
Kedatangannya kali ini tak ku suka.
.
Peristiwa demi peristiwa, terjadi.
Kata demi kata, dibagi.
Hingga sampai pada momen untuk bertanya.
Dan aku bercerita.
.
Tentang dia yang kurasa akrab, tetapi asing.
Tentang kebisuan di wajah, dan jerit hati yang melengking.
Tentang kekhawatiran atas sesuatu yang tanpa wujud dan rupa.
Tentang keinginanku untuk lupa.
.
Dan ternyata, kata kerja tak berdiri sendiri.
Yang ku dapatkan disana ternyata berimbuhan awal re-.
They remind. I refound.
Obviously, it’s not a different battle, just another round.
.
Bagaimanapun, itu menguatkan, itu menenangkan, itu menjelaskan.
Bahwa aku tak perlu menghapus kata-kata yg tertera di buku orang lain.
Cukup meraut kembali pensilku,
menghapus kalimat yg tak perlu untuk memperbaiki isi catatan kecilku.
.
Tak kenal maka tak sayang.
Jika tak ada keberanian untuk berhadapan, tak aneh jika selalu dihantui bayang.
.
Namun kini mentari telah terbit,
lagi,
untuk kesekian kali.
Dan gelap itu seketika lari terbirit,
sembunyi,
ke pelosok bumi.
.